Peserta pelatihan Sekolah Desa Berdaya (SDB) Batch 7 PT BGA Region Kotawaringin berfoto bersama./FOTO: ist
KOTAWARINGIN BARAT, News – Upaya mendorong kemandirian ekonomi desa terus diperkuat melalui program Sekolah Desa Berdaya (SDB) Batch 7 PT BGA Region Kotawaringin yang kembali digelar di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Mengusung tema “Cluster Peternakan”, kegiatan ini menjadi wadah peningkatan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola sektor peternakan secara terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, pada 16–17 April 2026 di SDB Metro Manggo, PT BGA Region Kotawaringin ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai desa sekitar.
Sejak pagi hari, peserta tampak antusias mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif sesuai kebutuhan di lapangan.

CSR Head Asisten PT BGA Region Kotawaringin, Dwi Suharyanto, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan pendidikan vokasi.
Ia menekankan bahwa pengembangan sektor peternakan berbasis klaster dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik dan profesional.
“Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata, terutama dalam menciptakan usaha peternakan yang berkelanjutan, efisien, dan berdaya saing. Kami tidak hanya memberikan peluang, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dwi mengungkapkan bahwa Sekolah Desa Berdaya merupakan sekolah vokasi pertama di Kalimantan Tengah yang telah berjalan sejak tahun lalu dan resmi diluncurkan pada awal 2026. Hingga saat ini, ratusan peserta telah mengikuti pelatihan di berbagai bidang.
Tantangan ke depan, menurutnya, adalah meningkatkan keterampilan masyarakat agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri dan peluang usaha yang terus berkembang.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima program, tetapi juga siap secara kompetensi. Jadi ketika ada peluang usaha atau bantuan program, mereka sudah memiliki dasar ilmu yang kuat,” tambahnya.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Desa Lalang, Alpan Suri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat desa, khususnya yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Program seperti ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Harapannya, kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat, sehingga dampaknya semakin luas,” katanya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi teknis yang disampaikan oleh narasumber berpengalaman. Perwakilan Dinas Pertanian, Imam Kamawi, memberikan pemaparan mendalam terkait dasar-dasar peternakan kambing dan itik. Ia menjelaskan pentingnya pemilihan bibit unggul seperti kambing Jawa Randu, Boer, dan Etawa sebagai langkah awal keberhasilan usaha peternakan.
Selain itu, peserta juga dibekali pengetahuan tentang manajemen kandang, termasuk standar luas kandang yang ideal, sistem rotasi kandang untuk menjaga kebersihan dan kesehatan ternak, hingga proses perkawinan yang efektif untuk meningkatkan produktivitas. Tidak hanya itu, materi tentang budidaya itik dan teknik perawatannya juga menjadi perhatian utama peserta.
Sementara itu, Trainer Peternakan, Nur Ali, memperkaya wawasan peserta dengan materi manajemen budidaya ternak bebek dan unggas secara umum.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan pakan, sanitasi lingkungan, serta pengendalian penyakit sebagai faktor kunci dalam keberhasilan usaha peternakan.
Dengan pendekatan pelatihan yang komprehensif dan berorientasi praktik, Sekolah Desa Berdaya Batch 7 diharapkan mampu melahirkan peternak-peternak desa yang tidak hanya mandiri, tetapi juga inovatif dan siap bersaing.
Program ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem peternakan berbasis klaster yang kuat di wilayah Kobar dan Kotim, guna mendukung pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan.


Comment