Plt. Kepala Disdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo./FOTO: ist
PALANGKA RAYA, News – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Disdik Kalteng) berencana membentuk Research Club atau Klub Riset.
Klub ini merupakan bentuk penguatan kapasitas guru dan peserta didik di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Coding, serta implementasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Program ini sebagai fokus utama kebijakan pendidikan tahun 2026.
Dalam Research Club nantinya peserta didik akan didorong untuk melakukan penelitian. Penelitian itu akan didampingi langsung oleh guru yang berperan sebagai pembimbing.
Hal ini disampaikan Plt. Kepala Disdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo dalam rapat koordinasi daring bersama pengawas dan kepala SMA, SMK, serta Sekolah Khusus (SKH) se-Kalimantan Tengah pada Sabtu (17/1/2026).
Ia berharap setiap satuan pendidikan memiliki Research Club, mulai dari SMA, SMK, hingga SKH. Ia menargetkan setiap sekolah minimal mampu menghasilkan satu riset atau inovasi.
“Nantinya anak-anak didik yang melakukan riset, sedangkan guru tugasnya membimbing dan mengarahkan sesuai dengan karakter dan potensi sekolah masing-masing,” ujar Reza, Senin, (19/1/2026).
Untuk jenjang SMA, Reza mendorong kolaborasi lintas mata pelajaran, seperti biologi, fisika, dan kimia, guna mengembangkan riset berbasis sains. Sementara itu, Sekolah Khusus (SKH) juga diharapkan mampu menggali keunggulan dan kekhasan peserta didiknya untuk dikaji dan dikembangkan menjadi inovasi yang bernilai.
Reza mencontohkan potensi lokal sebagai sumber riset, seperti pengembangan produk berbasis komoditas daerah. Menurutnya, inovasi dapat lahir dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Di Basarang misalnya, potensi nanas sangat besar. Dulu gula dari tebu, sekarang dari jagung atau stevia, tidak menutup kemungkinan nanti dari nanas. Jangan pernah ragu untuk berinovasi,” terangnya.
Reza menekankan pentingnya riset berbasis lingkungan. Ia menyinggung contoh penelitian siswa yang memanfaatkan air gambut dengan sistem katoda dan anoda hingga mampu menyalakan lampu sebagai bukti bahwa riset dapat dilakukan dengan pendekatan kontekstual dan aplikatif.
Untuk SMK, riset dan inovasi diarahkan pada kompetensi keahlian masing-masing, seperti teknologi jaringan, rekayasa, dan bidang vokasi lainnya. Konsep ‘one school one product’ ditargetkan sebagai standar minimal inovasi di setiap sekolah.
“Bayangkan kalau dari lebih 400 sekolah, masing-masing menghasilkan satu produk inovasi setiap tahun. Ini potensi luar biasa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Reza mendorong sekolah untuk aktif mempublikasikan hasil inovasi melalui media digital dan media sosial sekolah. Menurutnya, pemanfaatan internet membuka peluang tanpa batas untuk memperkenalkan karya peserta didik ke publik yang lebih luas.
Disdik Kalteng juga berencana menggelar ajang inovasi secara berkala, seperti pekan inovasi berbasis zonasi wilayah, guna mempertemukan dan memamerkan hasil riset siswa dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Selain itu, ia membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan industri melalui pemanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui platform PENA Kalteng, sekolah dapat difasilitasi untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan di sekitar wilayahnya guna mendukung proses riset dan pengembangan inovasi siswa.
“CSR yang disalurkan harus berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak menutup kemungkinan, dari sini akan lahir inovasi yang bisa menembus tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya.


Comment